Nama : Siti Humaira
NIM : 1801056005
Prodi : Manejemen Haji dan Umroh
Riview
Artikel
1.
Identitas Artikel
Nama
Penulis : Hasyim Hasanah
Judul
Artikel : Baby Smoker: Perilaku Konsumsi
Rokok Pada Anak dan Strategi Dakwahnya.
Jumlah
halaman : 22 halaman
Alamat
website artikel : http://www.journal.walisongo.ac.id/index.php/sawwa/article/viewFile/635/574
2.
Pendahuluan
Beberapa headline news media cetak dan
elektronik akhir-akhir ini begitu hangat memperbincangkan keberadaan Baby
smoker. Beberapa media melansir dalam perkembangan dua tahun terakhir
didapatkan kenyataan bahwa Indonesia disebut-sebut menjadi satu-satunya negara
di dunia dengan baby smoker atau perokok anak.1 Cina khususnyaTiongkok
merupakan negara nomor satu dalam konsumsi rokok yaitu sekitar 390 juta perokok
atau 29% per penduduk, disusul India dengan 144 juta perokok atau 12,5% per
penduduk dan Indonesia hanya sekitar 65 juta perokok dan menjadi negara
terbesar ke-3 dengan jumlah perokok di dunia. Meskipun Cina menempati peringkat
satu dunia dalam konsumsi rokok, hebatnya tidak ada anak-anak yang kedapatan
mengkonsumsi rokok. Berbanding terbalik dengan Indonesia, sebagai negara
berkembang yang menempati urutan ke tiga dunia dalam konsumsi rokok, ternyata
Indonesia telah dinobatkan menjadi satu-satunya negara dengan baby smoker.
Merupakan prestasi yang menyedihkan khususnya dalam pembentukan generasi muda
yang sehat, dan kreatif.
3.
Latar belakang atau Masalah
Anak merokok merupakan fenomena yang dianggap
wajar oleh sebagian besar orang tua. Anak merokok dari tahun ketahun terus
mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan karena banyak factor,
diantaranya factor yang bersifat internal maupun eksternal, baik karena watak
kebiasaan, maupun pengaruh dari lingkungan khususnya media massa. Pada beberapa
kasus anak merook memiliki dampak negative dalam perkembangan kehidupannya
diantaranya efek berupa sakit fisik maupun psikologis, dan perilaku malasuai. Kondisi
ini perlu diminimalisir agar perilaku rokok anak dapat diminimalisir. Salah satu
upaya yang diduga dapat dilakukan untuk mengurangi peningkatan perilaku merokok
adalah dengan upaya dakwah islam dengan mengoptimalkan bentuk kegiatan dakwah
yaitu Irsyad, tabligh, tadbir, dan tathwir.
4.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang ditulis penulis yaitu
menggunakan metode informasi yang telah terdokumentasikan baik berupa buku,
jurnal, dan makalah ilmiah maupun hasil penelitian sebagai data primer. Untuk mendapatkan
hasil maksimal penulis menggunakan strategi dan tehnik penelitian yang
dipandang tepat serta dapat dipertanggung jawabkan. Tehnik penelitian yang
dimaksud yaitu: Pendekatan studi, pengunpulan data, serta tehnik analisis data.
-
Pendekatan studi
Pendekatan
studi yang dilakukan penulis yaitu studi kasus, penulis memilih pendekatan
kualitatif untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam yang berhasil direkam oleh
penulis untuk diteliti.
-
Pengumpulan data
Pengumpulan
data yang dilakukan penulis yaitu menggunakan sarana observasi, dan studi documenter.
Serta untuk menguji validitas data, penulis melakukan beberapa cara diantaranya:
banyak melakukan diskusi dengan ahli dan peneliti lainnya.
-
Tehnik analisis data
Penulis
secara bertahap setelah melakukan proses pengolahan data, kemudian bertahap
data tersebut diklasifikasi, disaring, didentifikasi, digeneralisasi, dan
kemudian ditarik kontruksi-kontruksi teoritisnya.
5.
Kelebihan atau keunggulan
a.
Kelebihan artikel ilmiah ini yaitu mengangkat sebuah permasalahan yang sepeleh
namun dampaknya sangat besar jika tidak dicegah ataupun diminimalisir. Seperti latar
belakang yang telah dipaparkan, bahwa Cina khusunya Tiongkok merupakan negara
nomor satu dalam konsumsi rokok yaitu sekitar 390 juta perokok atau 29% per
penduduk, disusul India dengan 144 juta perokok atau 12,5% per penduduk dan
Indonesia hanya sekitar 65 juta perokok dan menjadi negara terbesar ke-3 dengan
jumlah perokok di dunia. Tulisan tersebut dikuatkan oleh Lampiran Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 40 Tahun 2013 Tentang Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi
Rokok Bagi Kesehatan bahwa Indonesia merupakan negara nomor 3 dengan jumlah
perokok tertinggi di dunia setelah Cina dan India.
b.
Dalam hal isi kelebihan artikel yaitu pada dampak baby smoker, beberapa dampak
merokok yang ditimbulkan dari kandungan zat pada rokok/tembakau yaitu Nikotin,
Timah hitam (Pb), Gas Karbonmonoksida (CO) dan TAR. Hal ini dikuatkan oleh
artikel “Penyebab Relapse (Kembali Merokok) Pada Perokok Berat Ditinjau Dari Health
Belief Model” dengan penulis Sulis Winurini (Pusat Pengkajian Pengolahan Data
dan Informasi Sekretariat Jenderal DPR RI) Vol. 2 No.1, Juni 2011 bahwa
diantara ribuan zat kimia yang terdapat didalam rokok, ada tiga komponen utama yang
mengancam kesehatan perokok aktif maupun pasif yaitu, karbonmonoksida (CO),
nikotin dan tar.
c.
Isi dari pembahasan baby smoker, faktor eksternal yang mempengaruhi terjadinya
baby smoker salah satunya yaitu industrialisasi. WHO (World Health
Organization) tahun 2012 melakukan penelitian banyaknya perokok di negara
berkembang dan maju disebabkan berkembangnya pusat industry tembakau di Kawasan
itu. Tulisan itu diperkuat oleh artikel yang berjudul “Kebijakan Kawasan Tanpa
Rokok: Peluang dan Hambatan” oleh Juanita Vol. 01 No 02 Juni 2012 halaman 114
bahwa salah satu kepedulian WHO atas masalah tembakau adalah ditetapkannya
tanggal 31 Mei sebagai Hari Bebas Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day) yang
bertujuan untuk melindungi generasi muda sekarang dan mendatang dari kerusakan
kesehatan, social, lingkungan dan konsekuensi ekonomi dari konsumsi tembakau
serta terhadap paparan asap tembakau.
6.
Kekurangan atau Kelemahan
-
Kekurangan dari artikel ini penulis tidak
melakukan penelitian ke lokasi yang terdapat mayoritas baby smoker. Bagi pembaca
menimbulkan keraguan akan bentuk fakta yang terdapat di artikel yang ditulis
oleh penulis.
7.
Kesimpulan
Maraknya
baby smoker di Indonesia dan lingkungan sekitar kita memerlukan penanganan yang
serius, memerlukan partisipasi aktif masyarakat untuk tau, mau tau dan sadar
tentang berbagai macam dampak yang ditimbulkan akibat konsumsi rokok bagi
anak-anak. Pemerintah telah berupaya secara masksimal melalui penyelenggaraan
dan regulasi peraturan tentang larangan merokok ataupun penggunaan zat adatif
pada anak-anak, meskipun pelaskanaaan program itu jalan di tempat, masyarakat
perlu berpartisipasi aktif dalam mengurangi fenomena maraknya konsumsi rokok
pada anak. Secara sosial membiarkan anak mengkonsumsi rokok di usianya yang
masih dini, berarti membawa kita ikut ambil bagian dalam merusak generasi
penerus kita. Oleh sebab itu mari kita berupaya semaksimal mungin untuk
memberikan perlindungan kepada anak-anak bangsa di sekitar kita agar terhindar
dari rokok, dan konsumsi rokok apapun bentuknya. Kesadaran ini tentu akan
membantu upaya menurunkan angka konsumsi rokok pada anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar