Selasa, 11 Juni 2019

Ilmu Dakwah


Nama : Siti Humaira
NIM : 1801056005
Prodi : Manejemen Haji dan Umroh


Riview Artikel
1.      Identitas Artikel
Nama Penulis : Hasyim Hasanah
Judul Artikel  : Baby Smoker: Perilaku Konsumsi Rokok Pada Anak dan Strategi Dakwahnya.
Jumlah halaman : 22 halaman

2.      Pendahuluan
  Beberapa headline news media cetak dan elektronik akhir-akhir ini begitu hangat memperbincangkan keberadaan Baby smoker. Beberapa media melansir dalam perkembangan dua tahun terakhir didapatkan kenyataan bahwa Indonesia disebut-sebut menjadi satu-satunya negara di dunia dengan baby smoker atau perokok anak.1 Cina khususnyaTiongkok merupakan negara nomor satu dalam konsumsi rokok yaitu sekitar 390 juta perokok atau 29% per penduduk, disusul India dengan 144 juta perokok atau 12,5% per penduduk dan Indonesia hanya sekitar 65 juta perokok dan menjadi negara terbesar ke-3 dengan jumlah perokok di dunia. Meskipun Cina menempati peringkat satu dunia dalam konsumsi rokok, hebatnya tidak ada anak-anak yang kedapatan mengkonsumsi rokok. Berbanding terbalik dengan Indonesia, sebagai negara berkembang yang menempati urutan ke tiga dunia dalam konsumsi rokok, ternyata Indonesia telah dinobatkan menjadi satu-satunya negara dengan baby smoker. Merupakan prestasi yang menyedihkan khususnya dalam pembentukan generasi muda yang sehat, dan kreatif.

3.      Latar belakang atau Masalah
  Anak merokok merupakan fenomena yang dianggap wajar oleh sebagian besar orang tua. Anak merokok dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan karena banyak factor, diantaranya factor yang bersifat internal maupun eksternal, baik karena watak kebiasaan, maupun pengaruh dari lingkungan khususnya media massa. Pada beberapa kasus anak merook memiliki dampak negative dalam perkembangan kehidupannya diantaranya efek berupa sakit fisik maupun psikologis, dan perilaku malasuai. Kondisi ini perlu diminimalisir agar perilaku rokok anak dapat diminimalisir. Salah satu upaya yang diduga dapat dilakukan untuk mengurangi peningkatan perilaku merokok adalah dengan upaya dakwah islam dengan mengoptimalkan bentuk kegiatan dakwah yaitu Irsyad, tabligh, tadbir, dan tathwir.

4.      Metode Penelitian
  Metode penelitian yang ditulis penulis yaitu menggunakan metode informasi yang telah terdokumentasikan baik berupa buku, jurnal, dan makalah ilmiah maupun hasil penelitian sebagai data primer. Untuk mendapatkan hasil maksimal penulis menggunakan strategi dan tehnik penelitian yang dipandang tepat serta dapat dipertanggung jawabkan. Tehnik penelitian yang dimaksud yaitu: Pendekatan studi, pengunpulan data, serta tehnik analisis data.
-          Pendekatan studi
  Pendekatan studi yang dilakukan penulis yaitu studi kasus, penulis memilih pendekatan kualitatif untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam yang berhasil direkam oleh penulis untuk diteliti.   
-          Pengumpulan data
  Pengumpulan data yang dilakukan penulis yaitu menggunakan sarana observasi, dan studi documenter. Serta untuk menguji validitas data, penulis melakukan beberapa cara diantaranya: banyak melakukan diskusi dengan ahli dan peneliti lainnya.
-          Tehnik analisis data
  Penulis secara bertahap setelah melakukan proses pengolahan data, kemudian bertahap data tersebut diklasifikasi, disaring, didentifikasi, digeneralisasi, dan kemudian ditarik kontruksi-kontruksi teoritisnya.

5.      Kelebihan atau keunggulan
a. Kelebihan artikel ilmiah ini yaitu mengangkat sebuah permasalahan yang sepeleh namun dampaknya sangat besar jika tidak dicegah ataupun diminimalisir. Seperti latar belakang yang telah dipaparkan, bahwa Cina khusunya Tiongkok merupakan negara nomor satu dalam konsumsi rokok yaitu sekitar 390 juta perokok atau 29% per penduduk, disusul India dengan 144 juta perokok atau 12,5% per penduduk dan Indonesia hanya sekitar 65 juta perokok dan menjadi negara terbesar ke-3 dengan jumlah perokok di dunia. Tulisan tersebut dikuatkan oleh Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2013 Tentang Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok Bagi Kesehatan bahwa Indonesia merupakan negara nomor 3 dengan jumlah perokok tertinggi di dunia setelah Cina dan India.
b. Dalam hal isi kelebihan artikel yaitu pada dampak baby smoker, beberapa dampak merokok yang ditimbulkan dari kandungan zat pada rokok/tembakau yaitu Nikotin, Timah hitam (Pb), Gas Karbonmonoksida (CO) dan TAR. Hal ini dikuatkan oleh artikel “Penyebab Relapse (Kembali Merokok) Pada Perokok Berat Ditinjau Dari Health Belief Model” dengan penulis Sulis Winurini (Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi Sekretariat Jenderal DPR RI) Vol. 2 No.1, Juni 2011 bahwa diantara ribuan zat kimia yang terdapat didalam rokok, ada tiga komponen utama yang mengancam kesehatan perokok aktif maupun pasif yaitu, karbonmonoksida (CO), nikotin dan tar.
c. Isi dari pembahasan baby smoker, faktor eksternal yang mempengaruhi terjadinya baby smoker salah satunya yaitu industrialisasi. WHO (World Health Organization) tahun 2012 melakukan penelitian banyaknya perokok di negara berkembang dan maju disebabkan berkembangnya pusat industry tembakau di Kawasan itu. Tulisan itu diperkuat oleh artikel yang berjudul “Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok: Peluang dan Hambatan” oleh Juanita Vol. 01 No 02 Juni 2012 halaman 114 bahwa salah satu kepedulian WHO atas masalah tembakau adalah ditetapkannya tanggal 31 Mei sebagai Hari Bebas Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day) yang bertujuan untuk melindungi generasi muda sekarang dan mendatang dari kerusakan kesehatan, social, lingkungan dan konsekuensi ekonomi dari konsumsi tembakau serta terhadap paparan asap tembakau.

6.      Kekurangan atau Kelemahan
-          Kekurangan dari artikel ini penulis tidak melakukan penelitian ke lokasi yang terdapat mayoritas baby smoker. Bagi pembaca menimbulkan keraguan akan bentuk fakta yang terdapat di artikel yang ditulis oleh penulis.

7.      Kesimpulan
   Maraknya baby smoker di Indonesia dan lingkungan sekitar kita memerlukan penanganan yang serius, memerlukan partisipasi aktif masyarakat untuk tau, mau tau dan sadar tentang berbagai macam dampak yang ditimbulkan akibat konsumsi rokok bagi anak-anak. Pemerintah telah berupaya secara masksimal melalui penyelenggaraan dan regulasi peraturan tentang larangan merokok ataupun penggunaan zat adatif pada anak-anak, meskipun pelaskanaaan program itu jalan di tempat, masyarakat perlu berpartisipasi aktif dalam mengurangi fenomena maraknya konsumsi rokok pada anak. Secara sosial membiarkan anak mengkonsumsi rokok di usianya yang masih dini, berarti membawa kita ikut ambil bagian dalam merusak generasi penerus kita. Oleh sebab itu mari kita berupaya semaksimal mungin untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak bangsa di sekitar kita agar terhindar dari rokok, dan konsumsi rokok apapun bentuknya. Kesadaran ini tentu akan membantu upaya menurunkan angka konsumsi rokok pada anak.